Jalsatul Itsnain

Jalsatul Istnain - Pentingnya majelis ilmu

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Tanggal : 04 September 2017 / 13 Dzulhijjah 1438 H

Oleh :  Habib Abdurrahman Bin Husein Al Athos

 

Majelis ilmu adalah majelis mulia. Jangan tinggalkan kecuali ada udzur yang amat mendesak.

Al Habib Salim bin Abdullah Asy Syatiri meriwayatkan kepada murid-murid beliau , "Hadirlah kalian di majelis dengan niat obat"

Beliau Al Habib Salim Asy Syatiri mengatakan bahwa sakit bukanlah udzur untuk meninggalkan majelis, kecuali sakit sudah diatas ranjang atau di RS. 

Dikisahkan Imam Syafi?i mengidap penyakit wasir. Tidak mau kehilangan kenikmatan dan berkah majelis, beliau duduk di majelis dengan kursi yang dikondisikan dapat menampung darah yang keluar tersebut.

Dikisahkan salah seorang sahabat Rasulullah SAW, sahabat ini amat senang menghadiri majelis. Hingga suatu ketika beliau mengidap penyakit wasir. Namun, beliau tak mau meninggalkan majelis. Hadirlah beliau di majelisnya Rasulullah SAW, beliau duduk di pojok belakang menggunakan kursi dan wadah untuk menampung darah yang keluar. Berjam-jam beliau hadir di majelis tersebut, mendengar nasihat dan menatap wajah Rasulullah SAW. 

Berkat kesabaran dan kecintaan beliau terhadap majelis ilmu dan Rasulullah, tak seorang pun jamaah majelis yang hadir melihat malaikat di dalam majelis itu kecuali dia, sahabat Rasulullah SAW yang menghadirkan dirinya duduk di majelis ilmu dikala ia mengidap wasir. Bahkan, beliau mendapatkan salam dari malaikat, mendengar langsung suara malaikat tersebut. 

Sungguh orang-orang yang menghadiri majelis adalah orang ? orang mulia. Berkah dari majelis yang mulia. Apalagi dengan berdzikir dan mengamalkan ajaran Allah SWT dan Rasulullah SAW

Kedekatan seseorang dengan Rasulullah SAW tidak diukur dengan ilmunya, tapi diukur dengan ia mengikuti jejak Rasulullah SAW.  

Dikisahkan al Habib Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf, wali Qutub di zamannya. Beliau adalah satu satunya pemegang al qutub di zaman beliau dan merupakan keturunan Rasulullah SAW yang sempurna. Di akhir hayat beliau, beliau dalam keadaan tidak sadarkan diri (di hadapan Allah SWT). Beliau tidak merasakan, namun dapat mendengarkan.

Suatu hari, ketika pakaian beliau (Al Habib Abdul Qodir Assegaf) diganti oleh puteranya, putera beliau salah memasukkan lengan baju kesebelah kiri terlebih dahulu. Seketika itu, dengan izin Allah SWT, mata Al Habib Abdul Qodir Assegaf terbuka dan berkata,?Dari semenjak kapan Abdul Qodir bin Ahmad Assegaf melanggar sunnah Rasulullah SAW??

Akhirnya lengan bagian kanan yg dimasukkan terlebih dahulu. Hingga akhir hayat beliau, dan banyak orang-orang sholeh lainnya tidak mau meninggalkan sunnah Rasulullah SAW. Karena dibalik sunnah yang dikerjakan, terdapat keberkahan Rasulullah SAW. Dan semoga hati kita juga mendapatkan cahaya dari Rasulullah SAW. 

Semoga kita semua senantiasa diberikan keistiqomahan untuk menghadiri majelis, dan kita semua dapat selalu mengamalkan sunnah dari Rasulullah SAW dimanapun, kapanpun dan apapun yang kita kerjakan. Karena sesungguhnya kemuliaan seseorang itu adalah dari hatinya, dari kedekatannya dengan Allah SWT dan Rasulullah SAW. 

 

Tentang MRS Jatim

adalah sebuah wadah untuk menjadikan syiar dan kecintaan terhadap Rosulullah SAW, dibimbing oleh Al-Habib Idrus bin Muhammad Alaydrus yang diikuti oleh kebanyakan pemuda dan pemudi, melalui pembacaan Rotibul Haddad, Maulid Addhiyaullami dan Tausyiah oleh para Habaib dan Kyai dari Surabaya dan Sidoarjo.

Audio Stream


@khw6710f 
  5951B8E4 

 

Baitul Rasul

Jl. Simolawang 5 no.25, Surabaya.

© 2016 MRS Jatim.

Search