Bahaya Lisan

User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

RASULULLAH SAW bersabda : "Barang siapa yang diam maka ia akan selamat"

Lisan diciptakan oleh ALLAH SWT untuk memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur'an, dan membimbing manusia untuk menempuh jalan yang benar. Maka, pergunakanlah lisanmu dalam urusan agama dan dunia. Apabila engkau pergunakan lisan tidak sejalan dengan tujuan penciptaannya, maka engkau telah mengingkari nikmat ALLAH SWT dan mendurhakai perintah-Nya.

Lisanmu adalah anggota badan yang paling utama, ia dapat menjadi sebab seseorang dengan masuk syurga (bagi yang mampu menjaganya) namun ia juga yang paling banyak menjerumuskan manusia dalam neraka, melalui perbuatan dusta, menuduh orang lain tanpa bukti, memaki orang lain, memfitnah, menggunjing, dan seterusnya. Maka jaga lisanmu supaya ia tidak menjerumuskanmu ke jurang neraka.

Luqman al-Hakim berkata kepada putranya : "Andaikata bicara itu adalah perak, maka diam adalah emas".

ketahuilah..!! apapun yang keluar dari lisan kita kelak akan ada hisab dan pertanggung jawabannya. Maka hindarilah berbicara hal-hal yang tidak bermanfaat, karena itu akan membuat kita menyia-nyiakan waktu kita dari hal-hal yang bermanfaat. Apalagi jika pembicaraan itu mengandung keburukan. Berikut ini adalah beberapa perkara dari bahayanya lisan yang paling sering dilakukan manusia,maka jagalah lisan kita darinya :

  1. Berkata bohong
    RASULULLAH SAW bersabda : "sesungguhnya berdusta adalah salah satu pintu dari pintu-pintu kemunafikan"

  2. Ingkar janji
    Janji adalah hutang yang harus dibayar. Perbuatan ingkar janji juga merupakan salah satu pintu dari pintu-pintu kemunafikan, dan ALLAH SWT sangat melarangnya. ALLAH SWT Berfirman dalam surat Al-Maidah ayat 1 :

    "Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad (janji) itu"

  3. Ghibah (menggunjing orang lain)
    Orang yang ghibah maka sama saja ia memakan daging saudaranya yang telah mati. Adapun batasan ghibah adalah segala bentuk membicarakan orang lain yang mana apabila pembicaraan tersebut terdengar oleh orang yang dibicarakan akan membuatnya marah atau sakit hati. Dan orang yang mendengarkannya maka baginya adalah dosa yang sama dengan orang yang berbicara.
    RASULULLAH SAW bersabda : "Berhati-hatilah kalian dari perbuatan ghibah, karena sesungguhnya ghibah itu lebih berat dari zina. seorang pelaku zina yang bertaubat maka taubatnya diterima oleh ALLAH, sedangkan seorang pelaku ghibah yang bertaubat dosanya tidak akan diampuni oleh ALLAH hingga ia dimaafkan oleh orang yang digunjingnya"

  4. Berbantah-bantahan dan saling
     mendebat dengan tujuan mencela pendapat orang lain, dan mendustakannya serta menganggap remeh orang yang mengatakannya

  5. Memuji diri sendiri
    karena memuji diri sendiri dapat menimbulkan sifat sombong dan riya'

  6. Mencaci maki orang lain
    RASULULLAH SAW tidak pernah berkata buruk apa lagi mencaci maki orang lain. walau itu orang kafir sekalipun. Dalam suatu riwayat dijelaskan :

    َلَمْ يَكُنْ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم فَاحِشًا وَلَا لَعْنًا وَلَا سَبَبًا

    Nabi saw. bukanlah orang yang biasa mengucapkan kata-kata jorok, bukan pengutuk dan bukan pula tukang cacimaki, [HR. Muslim dari Anas].

    Dalam riwayat lain juga dijelaskan. suatu ketika Sahabat Abu Hurairah pernah meminta kepada Nabi agar mendoakan kecelakaan, keburukan atau kesengsaraan bagi orang-orang musyrik. Namun RASULULLAH SAW mengatakan :

    إِنِّي لَمْ أَبْعَثْ لَعْنًا ، وَ إِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً

    Aku tidak diutus Tuhan untuk mengutuk orang. Aku diutus hanya untuk menyebarkan kasih sayang. (HR. Muslim).

    Belakangan ini banyak sekali masyarakat yang dengan mudah mencaci maki orang lain, dan lebih parahnya yang dicaci maki tersebut adalah para alim ulama, habaib, kyai. Jika kepada orang kafir saja RASULULLAH melarang untuk mencaci maki, apalagi mencaci alim ulama, kyai, lebih-lebih Habaib yang beliau merupakan Dzuriyatun Nabi.  Banyak orang yang salah mengartikan demokrasi sebagai bentuk kebebasan dalam berpikir dan berpendapat, sehingga banyak masyarakat yang dengan bebas bicara, menulis dan bertindak semaunya. Apalagi dengan banyaknya media-media sosial yang membuat hampir tak ada sekat dan jarak di muka bumi ini. Semua orang dapat mengungkapkan apa saja di internet, khususnya media sosial. Hal ini bagaikan pisau bermata dua. jika penggunanya mampu menggunakan dengan benar sesuai syariat maka akan mengandung kemanfaatan. namun jika salah maka baginya segala macam bentuk kemudhorotan. Dari hal yang berbau pornografi, fitnah, hasutan dan hujatan, semua tak bisa lagi dibendung. Orang tidak lagi bisa membedakan mana roti mana kotoran, mana kebenaran dan mana kebathilan, semua dianggap sama. Sehingga banyak orang yang terperdaya olehnya. Tanpa sadar dia telah menyakiti hati orang lain dengan apa yang ditulisnya, dengan apa yang dibicarakannya. Di tengah kebenaran yang serba kabur ini, kita perlu kembali berpegang kepada akhlak sang Nabi, yang sebagian tercermin pada akhlak para ulama, yang benar-benar
    ulama, meski ia jarang tampil di media. Kita perlu mengingat kembali, dengan tujuan apa

    RASULULLAH diutus ke dunia: menyempurnakan akhlak manusia (liutammima makaarimal akhlak).

    Jika kita belum bisa jadi orang alim, minimal kita cinta dengan orang alim. Jika kita belum bisa menjadi orang yang shaleh, minimal kita cinta dengan orang shaleh. Jika kita belum mampu menjadi orang berakhlak, minimal kita cinta dengan orang yang berakhlak. Bukan justru menghujatnya, menghinanya, mencacinya, dengan kata-kata kasar yang melukai. Kita boleh tak sepakat dengan siapapun, kepada tokoh, ulama, Habaib, Namun bukan berarti kita boleh untuk tidak menghormatinya, apalagi mencelanya. Berpendapatlah dengan santun agar tidak dosa dan melukai hati. Jika RASULULLAH SAW saja, manusia yang paling mulia dan tinggi derajatnya saja tidak pernah mau mencaci maki orang lain, maka pantaskah kita yang penuh dosa ini saling mencela dan mencaci ? apalagi dicela dan dicaci maki itu adalah seorang alim ulama, kyai, Habaib, yang mana beliau semua adalah pewaris para Nabi yang akan menuntun kita menuju jalan yang ALLAH Ridhoi.

  7. Namimah (mengadu domba)
    RASULULLAH SAW bersabda :
    "tidak akan masuk surga para pengadu domba" (HR. Bukhori)

    Dalam riwayat lain RASULULLAH SAW juga bersabda:  "Yang amat dicintai ALLAH SWT ialah yang terbaik akhlaknya, yang dermawan lagi gemar menjamu orang, yang dapat menyesuaikan diri lagi dapat diikuti penyesuaian dirinya itu, sedang yang amat dibenci di sisi ALLAH ialah orang-orang yang suka berjalan dengan berbuat adu domba, yang memecah belah antara saudara-saudara, lagi pula mencari-cari alasan untuk melepaskan diri dari kesalahan-kesalahan". (H.R. Ahmad)

    Batasan Namimah adalah segala sesuatu perbuatan yang membuat 2 pihak yang sebelumnya baik menjadi saling bermusuhan dan saling membenci.

  8. Bergurau, mengejek, dan menghina orang lain. Yang dilarang disini adalah senda gurau yang berlebihan, karena ia dapat menimbulkan banyak tertawa, dan banyak tertawa dapat mematikan hati. Apa lagi jika didalamnya terdapat ejekan atau hinaan kepada orang lain.

    ALLAH SWT berfirman dalam surat Al Hujurat ayat 11 :
     "Wahai orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengejek kaum yang lainnya"

Kedelapan penyakit lisan di atas dapat disembuhkan dengan cara bersikap diam dan tidak berbicara apabila tidak ada keperluan. Semoga ALLAH SWT memberikan kemudahan pada kita untuk menjaga lisan kita dari hal-hal yang dibenci dan tidak diRidhoi oleh ALLAH SWT.

 

Tentang MRS Jatim

adalah sebuah wadah untuk menjadikan syiar dan kecintaan terhadap Rosulullah SAW, dibimbing oleh Al-Habib Idrus bin Muhammad Alaydrus yang diikuti oleh kebanyakan pemuda dan pemudi, melalui pembacaan Rotibul Haddad, Maulid Addhiyaullami dan Tausyiah oleh para Habaib dan Kyai dari Surabaya dan Sidoarjo.

Audio Stream


@khw6710f 
  5951B8E4 

 

Baitul Rasul

Jl. Simolawang 5 no.25, Surabaya.

© 2016 MRS Jatim.

Search